Kapan Implementasi Etanol Berjalan? Ini Jawaban Bahlil
Listrik Indonesia | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kebijakan mandatori pencampuran etanol sebesar 10% ke dalam bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin atau E10 direncanakan mulai diterapkan pada 2027. Kebijakan ini disiapkan sebagai bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor BBM.
Bahlil menyampaikan rencana tersebut saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan jajaran menteri. Ia menjelaskan, impor bensin masih menjadi tantangan, sehingga pengembangan etanol dipandang perlu untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Bensin kita masih impor, karena itu kami sarankan program etanol itu bisa kita jalankan dan produksi 2027,” kata Bahlil, dikutip Rabu (24/12/2025).
Selain membahas etanol, Bahlil juga menyinggung prospek kemandirian energi untuk BBM jenis Solar atau diesel. Ia optimistis Indonesia tidak lagi mengimpor Solar mulai 2026, seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur.
Proyek RDMP Balikpapan yang dikelola PT Kilang Pertamina Balikpapan tersebut akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak mentah dari sebelumnya 260.000 barel per hari menjadi 360.000 barel per hari. Penambahan kapasitas ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan Solar dalam negeri.
- Baca JugaKrisis Energi Global Memanas, ASEAN Mulai Terapkan WFH
Bahlil menegaskan, meskipun program mandatori biodiesel 50% atau B50 belum dijalankan dalam waktu dekat, pasokan Solar nasional tetap diproyeksikan surplus.
“Tahun depan dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, menambah 100 ribu lebih barrels per day, Solar kita bisa umumkan, sekalipun kita belum dorong untuk B50 itu kita sudah surplus untuk Solar mulai tahun depan Indonesia tidak lagi impor Solar karena antara konsumsi dan produksi kita cukup,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan surplus Solar untuk kebutuhan lain. Menurutnya, kelebihan produksi Solar yang diperkirakan mencapai sekitar 4 juta ton berpotensi dikonversi menjadi bahan baku avtur.
“Kita lagi pikir, kalau kita mau dorong ke B50, maka jumlah Solar yang surplus 4 juta ton itu kita akan konversi untuk membuat produk avtur, sehingga 2026 Solar kita clear dan avtur bisa produksi dalam negeri,” tutup Bahlil.